Reksa Dana: Pengertian, Jenis, Produk hingga Cara Menghitung Profit

Artikel ini terakhir diperbarui November 15, 2020 by Revi Maudy Vekelita
Reksa Dana: Pengertian, Jenis, Produk hingga Cara Menghitung Profit
Sumber foto: one photo via Shutterstock
Bagikan ke Teman:

Siapa bilang dalam berinvestasi harus selalu bermodal besar? Bagi pemodal kecil, kamu tetap bisa berinvestasi melalui reksa dana. Wahana investasi satu ini dapat menjadi alternatif bagi para pemodal yang tidak memiliki banyak waktu hingga terbatasnya pengetahuan dan keahlian untuk menghitung risiko atas investasi mereka.

Dengan adanya reksadana, peran pemodal lokal untuk berinvestasi diharapkan dapat mengalami peningkatan di pasar modal Indonesia. Tertarik untuk berinvestasi jenis ini? Yuk, telusuri dulu berbagai informasi lengkap tentang reksadana bersama Qoala!

Pengertian Reksa Dana

Dua konsultan investasi pengusaha menganalisis investasi reksa dana atau reksadana dengan grafik dokumen gambar konsep pasar saham, kantor, pajak, dan proyek.
Sumber foto: Natee K Jindakum via Shutterstock

Sebelum membahas lebih jauh, kita perlu mengetahui terlebih dahulu apa itu reksadana dan beberapa pengertian dari istilah seputar investasi berikut ini.

Apa itu reksa dana?

Dalam Undang-Undang Pasar Modal No. 8 Tahun 1995, pasal 1 ayat (27), kamu bisa menemukan pengertian yang menjelaskan bahwa reksa dana adalah sebuah wadah yang dipergunakan untuk membuat himpunan dana dari masyarakat (sebagai pihak pemodal) yang kemudian diinvestasikan ke dalam bentuk portofolio efek oleh Manajer Investasi.

Jadi, kamu tidak perlu lagi mengelola uang secara langsung karena telah ada tim investasi profesional yang akan membantu mengelola dana milikmu.

Secara harfiah, pengertian reksa dana juga sama persis dengan terjemahan katanya dalam Bahasa Inggris yang adalah mutual fund.

Apa itu portofolio efek?

Jika kita membicarakan tentang portofolio efek, kita tentunya perlu memahami terlebih dahulu tentang istilah efek dalam ranah investasi dan keuangan. Efek adalah sebutan untuk surat-surat berharga seperti saham, surat utang, reksadana, tanda bukti utang, obligasi, dan lain sebagainya.

Jadi, bisa kita simpulkan bahwa portofolio efek adalah sebuah kumpulan dari berbagai efek atau surat-surat berharga yang dimiliki oleh seseorang atau suatu badan. Melalui portofolio efek inilah, reksadana menempatkan investasi yang merupakan bentuk kekayaannya.

Namun, dengan adanya portofolio efek, reksadana tidak boleh terkonsentrasi atau dengan kata lain: perlu melakukan diversifikasi investasi ke berbagai instrumen. Sebagai contoh, reksadana saham tidak boleh hanya ada pada satu saham saja sehingga wajib untuk melakukan investasi di berbagai perusahaan.

Apa itu Manajer Investasi (MI)?

Manajer Investasi (MI) adalah pihak (bisa perorangan maupun perusahaan) yang melakukan pengelolaan terhadap portofolio efek secara profesional berdasarkan kebijakan investasi yang sudah disepakati serta bertanggung jawab atas kinerja reksadana tersebut.

Tugas dan tanggung jawab Manajer Investasi tidak hanya untuk mengelola aset nasabah, tapi juga memutuskan instrumen investasi mana yang perlu dibeli, memutuskan kapan instrumen harus dijual atau dilepas, hingga melaporkan kondisi aset nasabah secara harian. Oleh karena itu, tujuan adanya Manajer Investasi adalah agar para investor yang sudah mempercayakan dananya kepada mereka dapat memperoleh keuntungan.

Untuk menggunakan jasa Manajer Investasi, para pemodal perlu membayar biaya jasa ke Manajer Investasi. Sebelumnya, para pemodal juga harus memperhatikan standar kualifikasi minimum yang telah ditetapkan oleh regulator bagi seseorang untuk menjadi Manajer Investasi.

Cara Kerja Reksadana

Reksa dana konsep keuangan dan uang serta reksadana yang ditampilkan di laptop menggunakan teknologi data internet.
Sumber foto: one photo via Shutterstock

Reksadana merupakan paket investasi yang di dalamnya terdapat pasar uang, obligasi, atau saham. Dalam praktiknya, cara kerja reksa dana terbilang simple bagi para pemodal karena paket investasi ini akan dikelola oleh ahli keuangan, yaitu Manajer Investasi yang telah berpengalaman di pasar modal.

Dalam tahap pengelolaan tersebut, uang yang dimiliki oleh para pemodal akan dikumpulkan untuk kemudian diinvestasikan ke dalam beberapa aset oleh Manajer Investasi.

Umumnya, investasi akan dipecah ke dalam beberapa instrumen atau perusahaan untuk mencegah terjadinya kerugian. Sebagai contoh, apabila kinerja Aset A tidak memiliki performa yang bagus, investasi akan tetap aman karena kamu masih memiliki Aset B, Aset C, hingga instrumen lain yang telah diatur oleh Manajer Investasi.

Nantinya, keuntungan akan didapatkan oleh para pemodal dari kenaikan harga per unit reksadana atau yang disebut dengan istilah Net Asset Value (NAV).

Dengan saluran yang luas, cara kerja reksadana secara keseluruhan tergolong mudah diakses sehingga dapat mempermudah kamu dalam mempelajari informasi terkait alur investasi, kondisi kesehatan perusahaan, hingga kelebihan dan keuntungan alurnya.

Manfaat dan Keuntungan (Benefit) dari Reksa Dana

Koin dalam dua toples dengan stiker atau label dengan tulisan mutual fund yang berarti reksa dana atau reksadana.
Sumber foto: Mentari Merah Studio via Shutterstock

Ada berbagai manfaat, keuntungan (benefit), hingga kelebihan yang bisa kamu rasakan dari melakukan pembelian reksadana, seperti:

Harga yang lebih terjangkau

Sebagai sebuah himpunan yang terdiri dari banyaknya pemodal, investasi jenis ini akan menghasilkan biaya transaksi yang efisien pula. Oleh sebab itu, biaya transaksinya pun akan jauh lebih rendah ketimbang investor yang melakukan investasi secara langsung di bursa efek.

Lebih mudah dan sederhana

Salah satu manfaat dari reksadana adalah kamu tidak perlu memikirkan pengelolaan uangmu. Sebab, ketika kamu berinvestasi melalui reksadana, uang kamu sudah dikelola oleh Manajer Investasi. Sehingga, kamu tidak perlu lagi menghadapi rumitnya cara hingga strategi untuk berinvestasi.

Pasalnya, menentukan saham-saham yang baik untuk dibeli bukanlah suatu hal yang mudah. Sementara, tidak semua pemodal memiliki pengetahuan dan keahlian tersebut.

Efisiensi waktu

Investasi jenis ini yang didukung dengan pengelolaan yang dilakukan oleh Manajer Investasi profesional sehingga pemodal dapat menghemat waktu tanpa perlu repot-repot untuk selalu memantau kinerja investasinya.

Risiko lebih rendah karena ada diversifikasi investasi

Kelebihan reksadana lainnya adalah adanya kemungkinan risiko yang tidak terpusat pada satu jenis investasi saja atau tersebar dengan adanya metode diversifikasi.

Sebagai contoh, apabila reksadana kamu menempatkan dana investasi di 25 perusahaan dan 3 di antaranya mengalami risiko loss (kerugian), pemodal tidak perlu khawatir karena masih ada kemungkinan risiko gain (keuntungan) di 22 perusahaan lainnya.

Keamanan lebih terjamin

Selain risiko yang lebih rendah, reksadana terbilang lebih aman karena dikelola oleh manajemen profesional. Manajer investor memiliki keahlian khusus dan telah melalui standarisasi tertentu sebelum membantumu dalam bidang pengelolaan dana.

Likuiditas yang tinggi

Likuiditas adalah kemampuan perusahaan untuk membayar kewajiban jangka pendeknya. Bila sebuah perusahaan memiliki likuiditas yang tinggi, maka perusahaan tersebut dapat dipercaya karena mampu membayar kewajiban jangka pendek sangat baik.

Dengan likuiditas tinggi ini pula, investor dapat mencairkan Unit Penyertaannya kembali setiap saat sesuai dengan ketetapan yang dibuat masing-masing reksadana.

Informasi yang transparan

Jenis investasi ini akan memberikan informasi perkembangan portofolio serta biaya dengan jelas secara berkelanjutan. Manajer Investasi wajib mengumumkan Nilai Aktiva Bersih setiap hari di surat kabar, menerbitkan laporan keuangan tengah tahunan dan tahunan, serta prospektus yang dilakukan secara teratur.

Dengan adanya informasi yang transparan, para investor atau pemegang Unit Penyertaan dapat memantau keuntungan, biaya, risiko, serta perkembangan investasinya setiap saat.

Potensi return yang tinggi

Jika kamu menginginkan jenis investasi yang menjamin investor dalam mempersiapkan masa pensiun atau investasi yang keuntungannya dapat dinikmati dalam jangka panjang, reksadana bisa kamu pilih.

Dengan potensi return yang tinggi, pilihan investasi satu ini juga memungkinkan kamu untuk mempersiapkan dana pendidikan dan berbagai rencana jangka panjang lainnya demi masa depan.

Jenis Reksa Dana

Tangan memegang HP yang menunjukkan aplikasi mutual fund atau reksa dana atau reksadana yang dapat diakses secara online melalui handphone atau smartphone.
Sumber foto: Marta Design via Shutterstock

Bingung memilih macam-macam reksadana yang ada di pasaran? Berikut ini adalah beberapa jenis reksa dana yang bisa kamu pilih untuk menginvestasikan uang di instrumen investasi yang relatif aman ini, di antaranya:

Reksa dana pasar uang

Reksa dana pasar uang adalah jenis reksadana yang seluruh uangnya diinvestasikan di instrumen pasar uang, seperti Sertifikat Bank Indonesia (SBI), deposito berjangka, dan obligasi dengan masa jatuh tempo kurang dari satu tahun.

Jenis ini cenderung lebih aman karena reksa dana dalam pasar uang tidak dikenakan biaya pembelian maupun penjualan kembali. Potensi tingkat pengembaliannya pun lebih tinggi ketimbang rekening tabungan atau rekening koran. Meski demikian, dengan risiko yang terbilang kecil, keuntungannya pun juga relatif lebih kecil ketimbang jenis investasi lainnya.

Namun, stabilitasnya tidak perlu diragukan lagi. Sebab, reksadana ini dipengaruhi dengan adanya deposito yang membayarkan bunga tetap sesuai perjanjian dengan penerbitnya. Pembayaran bunga obligasi jangka pendek maupun deposito dapat meningkatkan harga NAB/unit reksadana pasar uang yang kemudian akan membuat peningkatan harga reksadana menjadi stabil.

Reksa dana pendapatan tetap (reksadana obligasi)

Reksa dana pendapatan tetap atau reksadana obligasi adalah jenis reksadana yang sebagian besar alokasi investasinya terdiri dari surat utang (obligasi) atau surat berharga dengan besaran minimal 80% dari Assets Under Management (AUM) reksadana dan sisanya adalah produk pasar uang.

Reksadana ini memiliki tingkat pengembalian yang stabil karena memiliki aset surat utang (obligasi) yang memberikan keuntungan berupa kupon secara rutin. Surat utang atau obligasi bisa berupa obligasi pemerintah atau korporasi (perusahaan).

Imbal hasil atau return-nya pun lebih tinggi ketimbang reksadana pasar uang dan umumnya bisa naik lebih dari 10% tiap tahun. Jenis reksadana ini cocok dipilih bagi yang menginginkan investasi jangka waktu menengah (mulai 1 hingga 3 tahun) atau untuk para investor yang ingin investasi modal awal atau pokok investasinya aman, tapi tetap bisa mendapat untung.

Reksa dana saham

Reksa dana saham adalah jenis reksadana yang menempatkan dana investasi pada saham minimal sebesar 80% dan sisanya dialokasikan ke pasar uang.

Potensi untuk mendapatkan keuntungannya paling besar jika dibandingkan dengan reksadana lain. Namun, perlu diingat juga bahwa dengan tingginya kemungkinan untuk mendapat keuntungan, tinggi pula risiko yang ada alias high risk, high return.

Seiring dengan kemajuan zaman, kemudahan membeli reksadana saham dapat dilakukan secara online, bahkan melalui e-commerce. Reksadana saham cocok bagi pemodal yang ingin berinvestasi dalam jangka waktu panjang, yakni lebih dari 5 tahun.

Reksa dana campuran

Reksa dana campuran atau hybrid funds adalah jenis reksadana yang terdiri dari gabungan antara saham, obligasi (surat utang) dan pasar uang. Kombinasi antara efek ekuitas (saham) dan efek utang (obligasi) ini masing-masing besarannya tidak boleh ada yang melebihi 79% Nilai Aktiva Bersih.

Umumnya, jenis reksadana ini diperuntukkan bagi investor yang ingin mendapatkan imbal-hasil dari instrumen-instrumen saham dan pendapatan tetap, akan tetapi risikonya terbilang cukup tinggi. Namun, jika berhasil, keuntungannya akan sangat tinggi pula.

Dari satu tahun ke tahun berikutnya, tingkat pengembalian hasil investasinya tergolong fluktuatif, tapi pertumbuhan dananya relatif lebih stabil jika dibandingkan dengan reksadana saham. Sebagai catatan, jangka waktu untuk reksadana campuran adalah 3 hingga 5 tahun.

Reksa dana terproteksi

Reksa dana terproteksi adalah jenis reksadana yang menempatkan dana yang ada ke dalam instrumen obligasi yang memberikan perlindungan atas nilai investasi pada saat jatuh temponya.

Reksadana terproteksi memberikan proteksi atas Nilai Investasi Awal dari pemegang Unit Penyertaan melalui mekanisme pengelolaan portofolionya dengan menginvestasikan dana pada Efek Bersifat Utang yang masuk kategori layak investasi (investment grade), sehingga nilai Efek Bersifat Utang pada saat jatuh tempo sekurang-kurangnya dapat menutupi jumlah nilai yang terproteksi.

Sesuai namanya, reksadana ini memiliki keunggulan dalam tingkat perlindungannya yang tinggi, yaitu sebesar 100% pada pokok nilai investasinya jika kamu akan mencairkan dana sesuai dengan jangka waktu yang telah disepakati. Selain itu, Imbal hasilnya pun lebih terukur dalam jangka waktu investasi tertentu.

Reksa Dana Index (RDI)

Reksa Dana Index (RDI) mirip dengan saham karena instrumen ini bisa diperjual-belikan di bursa yang disebut ETF (Exchange Traded Fund) dan harganya pun cukup fluktuatif. Namun, biasanya, reksadana ini berisi index tertentu yang dikelola secara pasif yang artinya tidak ada jual beli di bursa, kecuali ada yang berlangganan baru atau melakukan penebusan.

Aset harus diinvestasikan sesuai dengan aset-aset pada indeks acuan untuk mendapatkan hasil investasi yang mirip dengan indeks acuan tersebut, baik indeks obligasi maupun indeks saham.

Reksadana index cocok untuk pemodal yang menginginkan transparansi investasi dan memilih pengelolaan secara pasif untuk hasil yang lebih maksimal. RDI juga dapat dibeli dan dijual sewaktu-waktu di bursa saham pasar modal.

Reksa Dana Penyertaan Terbatas (RDPT)

Reksa dana penyertaan terbatas adalah wadah yang digunakan untuk menghimpun dana dari Pemodal Profesional yang selanjutnya diinvestasikan oleh Manajer Investasi pada portofolio efek atau portofolio yang berkaitan langsung dengan proyek, seperti sektor riil, sektor infrastruktur, dan lain-lain.

Berbeda dari reksadana pada umumnya, Unit Penyertaan Kontrak Investasi Kolektif RDPT hanya ditawarkan secara terbatas hanya kepada Pemodal Profesional dan dilarang ditawarkan secara ritel melalui Penawaran Umum. RDPT dilarang untuk dimiliki oleh 50 pihak atau lebih. Oleh karena itu, penjualannya dilakukan eksklusif secara langsung oleh Manajer Investasi.

Contoh Produk Reksadana

Papan display investasi bertuliskan mutual funds atau tentang reksadana atau reksa dana pasar saham.
Sumber foto: iQoncept via Shutterstock

Ingin memulai berinvestasi dalam bentuk reksadana? Ketahui dulu beberapa contoh produk reksadana, termasuk reksa dana syariah terbaik (berdasarkan data Bibit – per Juli 2020) berikut ini:

Reksadana Saham

  • BNP Paribas Solaris
  • Manulife Dana Saham Kelas A
  • TRAM Infrastructure Plus
  • Simas Syariah Unggulan
  • Eastspring Investment Value Discovery Kelas A

Reksadana Obligasi

  • Mandiri Investasi Obligasi
  • Manulife Obligasi Unggulan
  • Majoris Obligasi Utama Indonesia
  • ITB Harmoni BNI-AM
  • ABF Indonesia Bond Index Fund

Reksadana Pasar Uang

  • Sucorinvest Sharia Money Market Fund
  • Sucorinvest Money Market Fund
  • Majoris Pasar Uang Syariah
  • Manulife Dana Kas II
  • Principal Cash Fund

Reksadana Syariah Saham

  • Manulife Syariah Sektoral Amanah Kelas A
  • Mandiri Investa Atraktif-Syariah
  • TRIM Syariah Saham

Reksadana Syariah Obligasi

  • Bahana MES Syariah Fund
  • Majoris Sukuk Negara Indonesia
  • Eastspring Syariah Fixed Income Amanah Kelas A

Reksadana Syariah Pasar Uang

  • Sucorinvest Sharia Money Market Fund
  • Schroders Dana Likuid Shariah
  • BNI-AM Dana Lancar Syariah

Tingkat Keamanan dalam Investasi Reksadana

Ikon kunci atau gembok di atas tumpukkan koin yang menggambarkan keamanan dalam berinvestasi reksadana atau reksa dana.
Sumber foto: Montri Thipsorn via Shutterstock

Investasi memang bisa mendatangkan keuntungan, tetapi ada pula risiko yang menyertainya. Hal ini kerap membuat orang awam takut dan khawatir tentang keamanan investasi mereka. Namun, kamu juga perlu membedakan antara risiko dan keamanan.

Jika kita bicara soal tingkat keamanan, investasi reksadana tergolong lebih aman dan terjamin ketimbang berbagai jenis investasi lainnya. Berikut ini adalah penjelasannya:

Investasi dikelola oleh Manajer Investasi (MI) yang profesional

Sebelum melakukan investasi reksadana, kamu tentunya perlu memilih Manajer Investasi terbaik. Apabila Manajer Investasi tersebut profesional, dapat dipastikan bahwa investasi reksadana terjamin keamanannya.

Umumnya, seorang Manajer Investasi telah mendapatkan standarisasi tertentu yang membuat mereka memiliki track record yang baik, mampu memberikan informasi produk reksadana secara transparan, serta mempunyai kredibilitas tinggi. Tingkat keamanan reksadana milikmu juga akan lebih terjamin lagi apabila Manajer Investasi tersebut memiliki partner atau rekanan bank internasional dan telah memenangkan penghargaan atas kinerjanya.

Resmi diatur dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK)

Investasi reksadana memiliki legalitas secara hukum dan tentunya terjamin karena resmi diatur dan diawasi oleh pemerintah melalui Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Bahkan, kini OJK juga mulai melakukan pengawasan terhadap berbagai perusahan hingga produk keuangan berbasis teknologi (fintech/financial technology) yang menawarkan platform untuk berinvestasi di reksadana.

Kamu tidak perlu khawatir karena semua hal yang berkaitan dengan ranah reksadana pasti mendapat pengawasan OJK, mulai dari produk reksadana itu sendiri, Manajer Investasi yang mengelolanya, agen penjual reksadana yang menyalurkan produk, hingga Bank Kustodian yang menyimpan uang investor.

Dana disimpan di Bank Kustodian atau bank umum dengan fungsi kustodian

Bank Kustodian atau disingkat kustodian adalah suatu lembaga yang bertanggung jawab untuk mengamankan aset keuangan dari suatu perusahaan maupun perorangan. Di sanalah dana yang ada pada reksadana disimpan secara aman.

Selain Bank Kustodian, dana juga dapat disimpan di bank umum yang mendapatkan izin untuk melakukan fungsi kustodian (penyimpanan) dari OJK. Maka dari itu, kamu tidak perlu khawatir apabila dana investasi akan disalahgunakan atau dibawa kabur oleh Manajer Investasi maupun APERD tempat kamu membeli reksadana.

Kinerja Manajer Investasi diawasi oleh Bank Kustodian

Dalam pelaksanaan investasi reksadana, Bank Kustodian juga mengawasi aktivitas MI. Sehingga, jika MI menyalahi aturan dalam pengelolaan uang investor, maka Bank Kustodian berhak memberikan peringatan. Oleh karena itu, pastikan kamu memilih perusahaan reksadana aman yang bekerja sama dengan MI profesional.

Risiko dan Kekurangan Reksadana

Putar kenop dengan tangan untuk memilih investasi berisiko rendah, konsep rasio risiko dan imbalan, seperti reksadana atau reksa dana.
Sumber foto: Olivier Le Moal via Shutterstock

Berinvestasi tentunya tidak terlepaskan dari adanya risiko. Seperti jenis-jenis investasi lainnya, risiko tersendiri juga ada pada reksadana. Meski lebih kecil dari investasi saham, nilai risikonya lebih besar dari investasi lain seperti di investasi emas, produk properti, ataupun produk deposito. Selain kelebihan, inilah beberapa risiko dan kekurangan reksadana, antara lain:

Risiko berkurangnya nilai Unit Penyertaan

Unit Penyertaan adalah satuan yang menunjukkan kepemilikan pemodal di dalam reksadana. Jumlah Unit Penyertaan akan tetap selama pemodal tidak melakukan transaksi. Banyaknya Unit Penyertaan tergantung dari harga NAB/Unit pada hari saat pemodal membeli reksadana tersebut.

Nah, dalam wahana investasi jenis ini, sangat mungkin terjadi risiko berupa berkurangnya nilai Unit Penyertaan akibat turunnya harga dari efek, seperti saham, obligasi, dan surat-surat berharga lainnya yang masuk ke dalam portofolio reksadana tersebut.

Risiko penurunan Nilai Aktiva Bersih (NAB)

Nilai Aktiva Bersih (NAB) adalah jumlah total nilai investasi atau dana kelolaan yang dikelola oleh Manajer Investasi atas produk reksa dana yang dimiliki pemodal. Risiko penurunan Nilai Aktiva Bersih (NAB) disebabkan oleh harga pasar instrumen investasi yang mengalami penurunan dibandingkan dari harga pembelian awal.

Penyebab penurunan harganya pun bisa beragam, mulai dari kinerja bursa saham yang kurang baik, kinerja emiten yang memburuk, situasi politik maupun ekonomi yang kurang stabil, hingga berbagai faktor pendukung lainnya.

Risiko likuiditas

Risiko likuiditas merupakan kesulitan yang dihadapi oleh Manajer Investasi apabila sebagian besar pemegang unit melakukan penjualan kembali (redemption) atas unit-unit yang dipegangnya. Penarikan dana dalam jumlah besar dalam waktu yang sama tersebut dapat membuat Manajer Investasi mengalami rush atau kesulitan dalam menyediakan uang tunai atas redemption atau pengembalian tersebut.

Risiko tersebut mungkin terjadi akibat adanya faktor negatif yang cukup besar, seperti situasi politik dan ekonomi negara yang memburuk, adanya kebangkrutan atau penutupan beberapa emiten, atau bahkan dilikuidasinya Manajer Investasi sebagai pengelola reksadana.

Risiko default

Risiko default merupakan salah satu masalah yang mungkin terjadi ketika Manajer Investasi membeli obligasi milik emiten yang ternyata mengalami kesulitan finansial, padahal kinerja perusahaan tersebut sebelumnya masih baik-baik saja. Akibatnya, pihak emiten pun terpaksa tidak membayar kewajibannya.

Risiko pasar

Risiko pasar juga mungkin terjadi ketika kamu berinvestasi dalam reksadana. Umumnya, penyebab risiko pasar adalah harga instrumen investasi mengalami penurunan akibat menurunnya kinerja pasar saham secara drastis.

Risiko wanprestasi

Bisa dibilang, dari semua risiko yang ada, risiko wanprestasi merupakan risiko terburuk yang mungkin saja terjadi ketika kamu berinvestasi. Kondisi ini bisa timbul ketika perusahaan asuransi yang mengasuransikan kekayaan reksadana tidak segera membayar ganti rugi atau membayar lebih rendah dari nilai pertanggungan saat terjadi hal-hal yang tidak diinginkan—meliputi wanprestasi dari pihak-pihak yang terkait dengan reksadana, pialang, Bank Kustodian, agen pembayaran, atau bencana alam—yang dapat menyebabkan penurunan Nilai Aktiva Bersih (NAB).

Cara Menghitung Profit dalam Reksa Dana

Tangan yang sedang memegang kertas berisi grafik atau chart sambil menghitung keuntungan atau kerugian investasi berupa reksa dana atau reksadana dengan kalkulator.
Sumber foto: sasirin pamai via Shutterstock

Siapa sih yang tidak ingin mencapai profit ketika berinvestasi? Semua orang tentu menginginkannya. Meski investasi reksadana sudah dikelola oleh Manajer Investasi, tapi kamu juga harus memiliki administrasi sendiri setiap kali bertransaksi. Lalu, bagaimana cara menghitung keuntungan dalam reksadana?

  1. Hitung jumlah unit penyertaan dikali harga terkini reksadana
  2. Kurangi hasil perhitungan langkah pertama dengan modal investasi: jika hasil pengurangannya plus berarti untung, dan jika hasil pengurangannya minus berarti rugi

Misalnya, pada tanggal 1 Januari 2020, Qoco membeli reksadana QQQ dengan NAB/UP sebesar Rp2.795,98. Dengan uang sebesar Rp1.000.000, Qoco mendapat Unit Penyertaan sebanyak 357 Unit.

Contoh 1:
Pada tanggal 1 Februari 2020, NAB/UP sebesar Rp2.938,32. Berapa keuntungan reksadana Qoco di tanggal 1 Februari 2020?

Langkah pertama: Qoco sebelumnya memiliki Unit sebesar 357 x Rp2.938,32 = Rp1.050.908,80
Langkah kedua: jumlah investasi terkini – jumlah investasi awal = Rp1.050.908,80 – Rp1.000.000 = Rp 50.908,80
Qoco mendapat keuntungan sebesar 5.09% dalam 1 bulan.

Contoh 2:
Jika Qoco secara berkala melakukan investasi selama 1 tahun dan bertujuan ingin menjualnya pada awal tahun 2021, maka nilai NAB/UP dihitung rata-ratanya. Contoh, rata-rata NAB/UP sebesar Rp2.752,47 dan jumlah keseluruhan unit yang dimiliki sebesar 4.365,18 unit. Apabila Qoco menjual reksadananya pada tanggal 4 Januari 2021 dengan NAB/UP Rp2.830,9 maka keuntungan yang didapat adalah dengan perhitungan sebagai berikut:

Langkah pertama: jumlah unit x rata-rata NAB/UP = 4.365,18 x Rp2.752,47 = Rp12.015.035
Langkah kedua: jumlah investasi terkini – jumlah investasi sebelumnya = (4.365,18 x Rp2.830,9) – Rp. 12.015.035 = Rp342.342,59
Sehingga, hasil investasi Qoco selama satu tahun dalam reksadana saham QQQ memperoleh keuntungan sebesar 2.85%.

Profil Risiko Reksadana

Selembar kertas dengan grafik perbandingan tingkat risiko rendah, sedang, dan tinggi terhadap risiko reksadana atau reksa dana.
Sumber foto: GreenTree via Shutterstock

Profil risiko reksadana adalah gambaran tingkat risiko yang sanggup ditanggung oleh pemodal dalam berinvestasi di reksadana. Secara umum, profil risiko reksadana terbagi atas 3 jenis, yaitu:

Konservatif

Profil konservatif biasanya menanamkan uangnya secara mayoritas di reksadana pasar uang dan reksadana pendapatan tetap. Sebab, pada umumnya, tingkat toleransi pemodal terhadap risiko investasi yang mungkin terjadi tergolong rendah.

Moderat

Profil moderat biasanya menanamkan uangnya secara mayoritas di reksadana campuran. Umumnya, pemodal dengan profil risiko moderat memiliki tingkat toleransi menengah terhadap risiko investasi yang bisa terjadi, sudah bisa menerima jika terjadi kerugian investasi, siap bertanggung jawab atas keputusan sendiri, dan sudah mulai tahu apa yang harus dilakukan dalam berinvestasi reksadana demi mendapatkan imbal yang lebih, tapi tetap meminimalkan risiko yang bisa terjadi.

Agresif

Profil agresif menanamkan uangnya secara mayoritas di reksadana saham. Umumnya, pemodal dengan profil risiko agresif memiliki tujuan finansial yang cukup panjang dan punya modal khusus untuk investasi reksadana.

Agen Penjual Reksadana Online dan Offline

Seorang agen atau nasabah yang sedang melakukan investasi reksadana atau reksa dana secara online menggunakan tablet atau iPad.
Sumber foto: Song_about_summer via Shutterstock

Jika dulu Agen Penjual Reksa Dana (APERD) identik dengan bank saja, kini kamu bisa membeli reksadana baik secara online maupun offline melalui perusahaan sekuritas, perusahaan asuransi, perusahaan pos dan giro, perusahaan pegadaian, perusahaan pembiayaan, hingga dana pensiun.

Hal tersebut dilandasi oleh peraturan OJK Nomor 39/POJK.04/2014 Tentang Agen Penjual Efek Reksa Dana, ada keleluasaan dalam pendirian perusahaan APERD.

Beberapa bank BUMN terkemuka di Indonesia yang menawarkan investasi reksa dana adalah Mandiri, BRI, dan BNI. Sementara untuk bank swasta, kamu bisa membeli reksa dana di BCA.

Namun, bila kamu lebih berniat untuk berinvestasi sambil berasuransi, kamu dapat memiliki reksa dana di Manulife Indonesia melalui pilihan produk unit link yang terdiri dari kombinasi investasi dan proteksi.

Tidak hanya itu saja, seiring dengan kemajuan teknologi informasi yang pesat serta adanya relaksasi aturan dari OJK mengenai Prinsip Mengenal Nasabah (Know Your Customer atau KYC), proses pembukaan rekening untuk berinvestasi reksadana pun dapat dilakukan secara elektronik untuk memudahkan proses pemasaran.

Investasi reksadana pun kini tidak lagi memiliki stigma yang mahal. Pasalnya, biaya yang ditawarkan tergolong rendah dan terjangkau. Misalnya, kamu bisa melakukan pembelian reksadana online dengan minimum investasi mulai dari Rp10.000 di berbagai e-commerce ataupun marketplace di Indonesia.

Kamu bisa membeli reksa dana di Tokopedia atau melalui platform reksadana di Bibit. Bermodal ponsel dan dana yang tidak perlu terlalu besar, kamu bisa langsung memiliki investasi reksadana dengan cepat dan praktis melalui aplikasi berbasis teknologi.

Cara Memilih Reksa Dana Terbaik

Seseorang sedang menjelaskan bagaimana memutuskan untuk berinvestasi serta menentukan produk reksadana atau reksa dana yang paling tepat.
Sumber foto: NicoElNino via Shutterstock

Bila kamu ingin memulai investasi reksadana, pastikan kamu telah mengetahui dan memahami berbagai cara dalam memilih reksadana terbaik berikut ini:

Pilih platform dengan pilihan lengkap

Platform merupakan tempat pemodal membeli reksadana. Pastikan kamu memilih platform yang menawarkan pilihan produk reksadana yang lengkap serta memiliki track record dan kredibilitas yang baik.

Pastikan kinerja reksadana dengan kenaikan NAV terbaik

Kinerja reksadana dilihat dari kenaikan harga unit (NAV). Kamu bisa mengetahuinya dari fund fact sheet, lalu dilihat dari grafik histori pergerakan NAV. Cara lainnya adalah dengan menggunakan fitur filter dari platform pilihanmu.

Ketahui tingkat return

Semakin tinggi keuntungan yang bisa diperoleh tentunya lebih baik. Caranya, kamu bisa membandingkan return reksadana dengan reksadana sejenis atau dengan melihat pertumbuhan reksadana tersebut dengan benchmark yang sesuai, seperti dengan IHSG. Cek juga apakah return dari investasi yang dilakukan setara dengan risiko yang diambil.

Pertimbangkan tingkat risiko

Makin besar keuntungan semakin besar pula risikonya (high return, high risk). Untuk itu, kamu harus mengetahui seberapa besar kemungkinan terburuk yang bisa terjadi. Cek indikator risiko penurunan dari suatu reksadana selama jangka waktu tertentu secara berkala agar kamu dapat mengukur apakah risiko reksadana ini masih bisa kamu terima.

Ketahui dana kelolaan

AUM (Asset Under Management) atau dana kelolaan dapat digunakan untuk mengukur seberapa besar reksadana dapat dipercaya oleh investor. Logikanya, semakin besar dana kelolaan, maka makin tinggi pula tingkat kepercayaan investor terhadap kualitas manajemennya.

Pilih expense ratio yang rendah, tapi tetap logis

Expense ratio merupakan pengukuran atas seberapa besar biaya yang dikeluarkan untuk mengelola reksadana. Hal ini mencakup management fees, biaya kustodian, biaya trading, hingga biaya marketing. Expense ratio yang dapat ditekan seminimal mungkin menandakan kepkepiawaian Manajer Investasi dalam mengelola reksadana untuk investornya secara efektif dan efisien.

Lihat sejarah kinerja reksadana

Hal ini penting untuk melihat kredibilitasnya. Namun, jangan salah kaprah. Sebab, kinerja reksadana yang baik di masa lalu tidak menjadi jaminan bahwa akan selalu baik di saat ini maupun masa depan.

Selaraskan reksadana dengan tujuan investasi

Masing-masing orang memiliki alasan dan tujuan yang berbada-beda dalam berinvestasi. Untuk itu, tetapkan tujuanmu agar dapat memilih reksadana yang paling selaras untuk menuju ke goal tersebut.

Riset pihak pengelola atau Manajer Investasi yang profesional

Pastikan kamu memilih Manajer Investasi yang memiliki track record yang baik, mampu memberikan informasi produk reksadana secara transparan, serta mempunyai kredibilitas tinggi.

Sesuaikan dengan kemampuan keuangan

Investasi memang penting, tapi bukan segalanya. Sehingga, sangat penting bagi kamu untuk lebih bijak dalam menaruh dana dalam berinvestasi. Pastikan nominalnya sesuai dengan kemampuan dan kondisi finansialmu.

Jadi, apakah kamu sudah yakin untuk mulai berinvestasi dengan memiliki reksa dana terbaik? Terlebih bila kamu tergolong pemula di dunia investasi atau kamu seorang milenial, reksadana dapat menjadi alternatif tepat. Ingin mengetahui informasi lainnya seputar keuangan, investasi, hingga asuransi—mulai dari asuransi jiwa hingga asuransi kesehatan—untuk menambah ilmu demi keamanan kondisi finansialmu? Temukan jawabannya di Qoala!

Bagikan ke Teman:
Revi Maudy Vekelita
Art runs in her blood. Gemar bepergian untuk mencicipi makanan serta traveling untuk membuka wawasan dan melihat sisi lain dunia.